Sunday 6 January 2013

Kenali Kemasan Makanan dan Minuman Kita (Bagian 1)



Picture source: http://www.impactlab.net/2009/05/22/study-finds-plastic-bottles-release-harmful-chemical-into-liquids/

Saat ke fitness center, saya beberapa kali memperhatikan botol minum yang sering dibawa orang-orang pada saat beraktifitas di tempat tersebut. Beberapa membawa botol minuman yang memang dibuat khusus sebagai kemasan minuman, ada yang membawa botol minuman yang bisa menghasilkan antioksidan, namun tak sedikit  juga yang menggunakan botol AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) entah itu baru atau hanya diisi ulang.
AMDK merupakan pilihan praktis buat orang-orang tertentu yang tidak mau repot dengan bawaannya. Selain mudah diperoleh dimana saja, botolnya pun bisa langsung dibuang. Banyak orang sering menggunakan botol bekas AMDK ini berulang kali, bahkan karena beberapa merek mempunyai bentuk kemasan yang unik sehingga dipakai terus sampai benar-benar tidak bisa digunakan. Tapi apakah botol bekas AMDK ini bisa digunakan berulang kali? Tunggu sebentar. Kita ikuti penjelasan berikut ini.

Kemasan Plastik
Kemasan makanan termasuk juga botol minuman dapat terbuat dari bahan-bahan seperti gelas atau wadah kaca lainnya, kaleng, karton/kertas, plastik keras, kemasan fleksibel, dan kaleng komposit. Jenis-jenis kemasan ini mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam mengemas suatu produk makanan atau minuman. Saya tidak akan membahas secara rinci setiap jenis kemasan makanan pada artikel ini, namun saya akan menitikberatkan pada kemasan yang terbuat dari plastik.
Sejak pertama kali plastik ditemukan, bahan yang satu ini mulai merambah ke berbagai aktifitas manusia. Dari yang ukuran paling kecil sampai yang paling besar, dari yang digunakan untuk non-food sampai digunakan untuk mengemas makanan/minuman. Pengembangan teknologi plastik yang disesuaikan dengan tujuan penggunaannya pun banyak dilakukan. Plastik yang awalnya hanya tersusun dari satu jenis polimer, sekarang sudah berkembang menjadi berbagai jenis polimer yang penggunaannya pun berbeda-beda tergantung dari jenis polimernya. Selain itu untuk ada juga zat-zat aditif yang ditambahkan untuk  menyempurnakan fungsi dan kegunaan kemasan plastik tersebut.
Beberapa jenis zat aditif yang ditambahkan pada suatu plastik antara lain yaitu:
  1. Plasticizer (pemlastis) yang digunakan untuk membantu proses melancarkan proses dan membuat polimer plastik menjadi lentur.
  2. Stabilizer digunakan untuk mencegah terurainya polimer apabila terkena panas atau sinar UV.
  3. Antioksidan digunakan untuk  mencegah proses oksidasi yang tidak diinginkan.
  4. Slip dan antistatic additive. Slip additive berfungsi untuk mengurangi pergesekan pada permukaan plastik dan untuk meningkatkan sifat dari produk akhir. Sedangkan antistatic additive berfungsi menurunkan daya hantar listrik dari plastik. Kedua jenis bahan ini biasanya digunakan bersamaan.
  5. Coloring agent digunakan untuk mewarnai bahan plastik.
Suatu bahan kemasan makanan yang baik harus memiliki sifat inert atau tidak mudah bereaksi dengan bahan yang dikemasnya. Bahan kemasan yang terbuat dari gelas atau kaca sudah terbukti bersifat inert, sedangkan bahan kemasan yang terbuat dari plastik bersifat inert hanya sampai pada batas tertentu. Dengan demikian penggunaan kemasan yang terbuat dari plastik harus mendapat perhatian dari penggunanya. Karena sifatnya yang tidak sama dengan kaca/gelas, pada makanan dan minuman yang dikemas dengan kemasan yang terbuat dari plastik terjadi suatu peristiwa yang disebut migrasi yaitu berpindahnya polimer dan/atau bahan aditif dari penyusun plastik ke bahan makanan/minuman yang dikemas.
Polimer dan bahan aditif inilah yang bisa masuk ke dalam tubuh bersama makanan/minuman yang dikonsumsi. Meskipun yang masuk dalam jumlah yang kecil, tapi bahan-bahan ini dapat menumpuk dalam tubuh karena tidak bisa diuraikan oleh tubuh. Jumlah bahan aditif atau polimer yang bermigrasi ke bahan makanan yang dikemas bisa bertambah melebihi ambang batas jika penanganannya tidak benar. Bahan-bahan inilah yang menyebabkan timbulnya penyakit seperti kanker dan penyakit degeneratif, bahkan sampai ke mutasi genetik yang tidak diinginkan.
Alasan inilah sehingga The society of the Plastic Industry (SPI) pada tahun 1988 memperkenalkan sistem pengkodean plastik atau disebut juga plastic recycling code (kode daur-ulang plastik). Informasi kode ini ditujukan untuk pendaur-ulang, industri pengguna, dan konsumen, sehingga penggunaan kemasan plastik ini nantinya akan cukup aman bagi manusia. Kode-kode ini menjelaskan sifat dari plastik tersebut, kegunaanya (apakah untuk makanan atau tidak untuk makanan), dan jenis produk daur-ulangnya. Kode ini biasanya dicetak di bagian bawah kemasan plastik, dan berbentuk segitiga dengan angka di dalamnya.


1 comment: